![]() |
| @kikiphotograph |
Deni Saefudin Hidayatullah, yang masyhur dikenal sebagai Bang Djiung Si Golok Terbang Bekasi, merupakan maestro dan pelestari Pencak Silat tradisional yang merangkai kaidah, keindahan, dan filosofi gerak menjadi sebuah identitas kultural yang disegani. Ia tidak hanya mewarisi jurus, namun juga mengolahnya menjadi metode yang terpersonalifikasi, melahirkan sistem Pencak Silat Golok Terbang pada tahun 2010. Senjata Golok, yang sejak era 1800-an melekat pada jiwa para pendekar dan jawara Bekasi dalam perjuangan kemerdekaan, kini diangkatnya dari ranah sejarah menjadi disiplin ilmu kontemporer yang relevan, bahkan menjadi bagian tak terpisahkan dari logo Kabupaten Bekasi.
Dedikasinya yang tak kenal lelah terpancar dari rekam jejaknya yang terstruktur dalam organisasi pelestarian budaya dan olahraga. Bang Djiung telah memimpin berbagai sanggar, termasuk Laskar Betawi Bekasi dan Pusaka Muda Bekasi, serta aktif dalam jajaran Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI) sebagai Wakil Ketua IPSI Kota Bekasi. Kiprahnya di Bekasi melampaui batas-batas sanggar; ia dikenal kerap melatih anak-anak di Kecamatan Mustikajaya, dari lapangan seadanya hingga akhirnya membawa Golok Terbang ke fasilitas modern, menunjukkan upayanya untuk mengenalkan warisan luhur ini ke berbagai spektrum masyarakat. Bahkan, ia kerap berpartisipasi dalam acara budaya seperti Unisma Fashion Week, menjadikan Golok sebagai elemen pertunjukan yang memukau.
Puncak dari perjuangan budayanya mencapai panggung global, di mana Bang Djiung berani membawa kearifan lokal ke kancah internasional. Ia pernah menjadi bagian tim Indonesia yang berjuang tanpa dukungan penuh, namun berhasil meraih Juara Tiga pada kategori In The Weapon Single Male Category dalam ajang World Martial Arts Contest di Korea Selatan. Konsistensinya sebagai Pelestari Silat Tradisional Bekasi, yang juga menciptakan entitas seperti Golok Terbang Entertainment, memperkuat posisinya sebagai garda terdepan dalam meneruskan amanah sejarah, memastikan nilai-nilai kepahlawanan Golok tetap hidup, diterima, dan dihormati oleh generasi hari ini dan mendatang.
